Labels

Labels

Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Friday, May 22, 2015

Minum Parasetamol Saat Hamil Bisa Kurangi Testosteron Bayi

View Article
kotabontang.net - Perempuan hamil diharapkan berhati-hati mengonsumsi parasetamol sebagai obat penghilang rasa sakit. Pasalnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal tersebut dapat menyebabkan anak laki-laki dalam kandungan kekurangan testosteron sehingga kesulitan melakukan reproduksi selama hidupnya nanti.

Seperti dilansir Reuters, dalam studi ini para peneliti menggunakan tikus yang telah dicangkok jaringan sel manusia sebagai bahan percobaan. Tim peneliti kemudian memberikan parasetamol harian selama periode antara 24 jam atau tujuh hari.

Setelah satu jam diberikan parasetamol, kelompok peneliti selalu memeriksa jumlah testosteron dalam jaringan manusia tersebut. Pada penelitian 24 jam, tidak terjadi efek apapun terhadap jaringan manusia. Namun, setelah sepekan diteliti, jumlah testosteron berkurang hingga 45 persen.

Seorang peneliti dari Edinburgh University, Rod Mitchell, menekankan bahwa berkurangnya testosteron dalam jaringan manusia ini dapat meningkatkan risiko ketidaksuburan dan kanker testikel.

"Kami menganjurkan para perempuan hamil untuk mengikuti petunjuk terbaru, yaitu menggunakan penghilang rasa sakit dengan efektif dan dalam dosis rendah dan jangka waktu pendek," ujar Mitchell.

Kepala penasehat sains dari Royal College, Sadaf Ghaem-Maghami, mengatakan bahwa penelitian ini sangat penting. Namun, masih sulit untuk menentukan apakah penelitian ini dapat berpengaruh langsung terhadap manusia.

"Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana parasetamol dapat memengaruhi tingkat testosteron," ucap Ghaem-Maghami dalam sebuah pernyataan.

Kendati demikian, Ghaem-Maghami tetap menyarankan ibu hamil untuk mengikuti anjuran Rod agar mengonsumsi parasetamol dalam kadar rendah dan waktu singkat.
-cnn indonesia-

Alasan Pria Tertarik pada Perempuan yang Mirip Ibunya

View Article
kotabontang.net - Alasan Pria Tertarik pada Perempuan yang Mirip Ibunya, Pernah bertemu ibu kekasih Anda, dan merasa sepertinya Anda mirip dengannya? Ternyata, cukup umum laki-laki berkencan dengan perempuan mirip ibunya.

Dilansir dari laman Women's Health, para peneliti di Finlandia merekrut 70 laki-laki dan perempuan, dan membandingkan wajah pasangan masing-masing partisipan dengan wajah orang tua mereka.

Hasilnya cukup mengejutkan. Di saat suami dari partisipan perempuan memiliki wajah yang tidak mirip dengan ayah mereka, partisipan laki-laki lebih mungkin berakhir dengan perempuan yang secara signifikan menyerupai ibu mereka, kata Urszula Marcinkowska, psikolog dari Universitas Turku.

Yang perlu digarisbawahi, tak ada yang tak wajar tentang lelaki tertarik pada perempuan menyerupai ibu mereka, kata Marcinkowska. Ini alasannya, evolusi dan seleksi alam memiliki orang-orang yang diprogram sebelumnya untuk mencari mitra yang berasal dari kelompok spesies sama.

Karena kontak pertama dan paling dekat laki-laki adalah dengan ibu mereka, maka mereka menjadi laki-laki yang mencari pola sama, kata Marcinkowska. Sementara, seorang ayah, tidak peduli seberapa berdedikasi dan berjasanya dia, tidak meninggalkan jenis jejak yang sama pada preferensi pasangan putri mereka.

Namun perlu diperhatikan, koneksi ibu dengan anak tidak berhenti pada penampilan. Gagasan Sigmund Freud untuk Oedipus Complex sebagian besar berasal dari kejiwaan, hubungan lelaki dengan ibunya memainkan peran besar dalam seberapa baik dia menghubungkan perempuan di kemudian hari, kata Michael Kimmel, sosiolog dari Universitas Suny.

Landasan terbaik dari keterikatan romantis yang sehat adalah kedekatan dan kasih sayang ibu dengan anak, kata Kimmel. Namun, jika seorang lelaki memiliki hubungan tidak baik dengan ibunya, dia mungkin tidak sadar mencari perempuan yang mirip ibunya sebagai kekasihnya,” kata William Pollach dari Sekolah Medis Cambridge Heatlh Alliance.

Mengapa? Karena dia mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan ibunya yang telah rusak. ”Tetapi itu hampir tidak pernah berhasil,” kata Pollack.
--cnn indonesia--

Menjadi Ibu Tunggal Berbahaya Bagi Kesehatan di Masa Depan

View Article
kotabontang.net - Membesarkan anak seorang diri merampas banyak hal dalam diri seorang perempuan. Dari kesehatan yang lebih buruk, dan perjuangan lebih keras melakukan tugas sehari-hari setelah usia 50 tahun, berdasarkan studi internasional terbaru, seperti dilansir dari laman Reuters.

Di beberapa negara, jaring pengaman sosial pemerintah dan pihak keluarga besar mungkin menumpulkan efek dari menjadi ibu tunggal.

Namun, peneliti menemukan hubungan kuat antara menjadi ibu tunggal dengan kesehatan buruk di beberapa negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Swedia, dan Denmark, dibandingkan dengan negara-negara di Eropa Selatan.

“Kami telah mengantisipasi bahwa para ibu tunggal di Amerika Serikat akan mengalami banyak hal buruk. Begitu banyak para pekerja yang berstatus ibu tunggal menerima upah rendah. AS tidak memiliki perlindungan sosial paling mendasar untuk para ibu tunggal dibandingkan negara-negara lain,” kata ketua penelitian Lisa F. Berkman dari Pusat Studi Kependudukan dan Pengembangan Harvard di Cambridge, Massachusetts.

“Yang mengejutkan adalah para perempuan di Inggris mendapatkan perlakuan hampir sama dengan para ibu tunggal di AS,” kata Berkman. Para ibu tunggal di Skandinavia tampaknya berisiko juga.

Negara-negara Skandinavia memiliki program cuti hamil dan program anti-kemiskinan dasar yang lebih kuat, tetapi para perempuan di sana masih menemui banyak kesulitan,” katanya.

“Perlindungan sosial dasar masih sangat membantu mereka, tetapi tidak cukup untuk melindungi perempuan-perempuan ini,” katanya. “Mereka cenderung masih lebih miskin dari ibu menikah, situasi kerja mereka menantang, belum lagi keluarga besar mereka yang tidak mendukung seperti halnya di negara-negara Eropa Selatan.”

Peneliti mensurvei lebih dari 25 ribu perempuan di atas usia 50 tahun tentang sejarah pernikahan, kelahiran anak, serta kemampuan mereka menyelesaikan kegiatan sehari-hari, misalnya kebersihan pribadi atau aktivitas penting seperti mengemudi dan belanja. Survei dilakukan dengan tiga penelitian sebelumnya di 14 negara.

Ibu tunggal didefinisikan sebagai perempuan yang memiliki anak berusia di bawah 18 tahun tapi belum menikah. Di sini, para peneliti tidak memperhitungkan hidup bersama.

Satu dari tiga ibu di AS melaporkan, mereka menjadi orang tua tunggal sebelum usia 50 tahun. Secara umum, menjadi ibu tunggal dikaitkan dengan miskinnya tingkat kesehatan dan kecacatan setelah usia 50, seperti dilaporkan dalam Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat.

“Ibu yang mengasuh anaknya sendirian melaporkan kesehatan yang lebih buruk dibandingkan beberapa ibu di sebagian besar masyarakat, terlepas dari ukuran kesehatan yang dipilih, apakah itu kesehatan mental atau fisik,” kata Sara Fritzell dari Institut Karolinska di Stockholm, Swedia.

“Ibu tunggal bekerja sangat keras untuk mengurus anak-anak mereka,” kata Berkman.

“Mereka melakukan hal ini dengan mengorbankan kesehatan mereka sendiri. Mereka mungkin kurang berolahraga, pola makan lebih buruk, atau bekerja sangat keras sampai menyebabkan stres untuk memenuhi kebutuhan keluarga.”

--cnn indonesia--

Wednesday, May 13, 2015

Apakah Cerai Sah Ketika Diucapkan karena Emosi dan Tanpa Saksi?

View Article
kotabontang.net - Apakah Cerai Sah Ketika Diucapkan karena Emosi dan Tanpa Saksi? Ketika suami dan istri bertengkar, suami mengucapkan,"saya ceraikan kamu (istri). Tanpa saksi, apakah status perkawinan pasangan demikian sudah tidak sah? dan benarkah harus menunggu 40 hari untuk berhubungan badan dan harus mengucapkan ijab kabul lagi?

Demikian pertanyaan netizen di situs konsultasi islam, alifmagz.com, Rabu (13/5/2015).

Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an, M Quraish Shihab, menjawab pertanyaan netizen tersebut, berikut ini:

"Para ulama berbeda pendapat menyangkut jatuh tidaknya suatu perceraian. Ada yang mempermudah sehingga menjadi banyak perceraian.

Ada juga yang menyulitkan atau memperketat demi mengurangi jatuhnya perceraian.

Ada yang berpendapat jika ucapan cerai telah terlontar dari lidah suami, baik bercanda atau serius maupun marah atau rela, jatuh sudah talak itu.

Ada juga yang menyatakan bahwa diperlukan dua orang saksi untuk jatuhnya ucapan talak suami.

Di sisi lain, emosi pun bertingkat-tingkat, ada yang sedemikian besar, sehingga seseorang tidak menyadari ucapan atau tindakannya.

Jika ini yang terjadi, ucapan talak ketika itu tidak mengakibatkan perceraian, tetapi jika dalam keadaan emosi itu sang suami masih dapat menguasai diri dan menyadari apa yang diucapkannya, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa ucapan tersebut telah berdampak hukum.

Jika ucapan tadi baru pertama kali atau kedua kali diucapkan, suami masih dapat kembali menjalin hubungan suami istri kapan saja selama sang istri masih dalam masa iddah.

Untuk kembali, suami tidak perlu menunggu empat puluh hari atau lebih. Sesaat setelah dia mengucapkan talaknya, dia dapat kembali, tetapi harus diingat bahwa talak tersebut telah terhitung, sekali dari tiga kali yang diperkenankan untuknya.

Jika perceraian itu telah merupakan talak ketiga, suami istri tidak dapat kembali menjalin hubungan suami istri kecuali jika istri yang dicerai itu menikah dan kawin dengan pria lain lalu pria itu menceraikan, dan sang istri menyelesaikan masa iddahnya.

Demikian, wallahu a’lam. (alifmagz.com)

Thursday, March 12, 2015

Ini Cara Didik Anak Sebelum Lahir Sampai Usia 18 Tahun, Anjuran Nabi

View Article
kotabontang.net - Salah siapa jika Anak tumbuh nakal, mental buruk? semoga orang tua tidak salah mendidik anak, mulai dari rahim sampai usia 18 tahun.

Ada beberapa tahap mendidik anak pada masa tersebut seperti dianjurkan Rasulullah SAW.

Berikut ini, tahap mendidik tersebut, seperti dilansir Keluargacinta.com dari buku Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahum Nabi al Amin karya Jamal Abdurrahman:

Tahap 1, Sebelum Anak Lahir Sampai Usia 3 Tahun.

Mendoakan calon bayi
Mendoakan dan memberikan perhatian saat anak dalam kandungan
Mendoakan saat bayi hendak lahir
Menyambut bayi dengan azan
Men-tahniq bayi
Mengajarkan atau memperdengarkan zikir dan doa kepada bayi
Mengeluarkan zakat (fitrah) sejak ia lahir
Menyayanginya
Memberinya nama yang baik pada usia 7 hari
Melaksanakan aqiqah pada usia 7 hari
Mencukur rambutnya dan bersedekah setara dengan berat rambut pada usia 7 hari
Bercanda dengan bayi
Menyebut anak dalam gelar orang tua
Meng-khitan
Menggendong bayi
Menanamkan tauhid sejak dini
Memperhatikan penampilan dan gaya rambutnya
Mengajarkan cara berpakaian
Selalu menghadirkan wajah ceria kepadanya
Menciumnya dengan penuh kasih sayang
Bercanda dan bermain dengan anak-anak
Memberi hadiah
Mengusap kepalanya sebagai bentuk kasih sayang
Mengajarkan dan meneladankan kejujuran pada anak.

Tahap II: Usia 4-10 Tahun

Membiasakan panggilan kasih sayang dengan nada lembut
Menemaninya bermain dan belajar
Mengajaknya berjalan sambil belajar
Memberikan kesempatan yang cukup untuk bermain
Menghargai permainannya
Menanamkan akhlak mulia
Mendoakannya
Mengajaknya berkomunikasi secara intensif dan minta pendapatnya
Mengajarkan amanah dan menjaga rahasia
Membiasakan makan bersama
Mengajarkan adab makan
Mengajarkan persaudaraan dan kerja sama
Melerai ketika anak-anak bertengkar
Melatih kecerdasannya dengan lomba dan cara lainnya
Memberikan hadiah kepada anak yang berhasil melakukan sesuatu atau berprestasi
Menjaga anak dengan zikir dan mengajarinya berzikir
Mengajarkan azan dan shalat
Mengajarkannya berani karena benar
Jika anak mampu, boleh ditunjuk sebagai imam.

Tahap III, Anak Usia 10-14 tahun

Membiasakan salam
Memberikan makanan dan pakaian yang layak
Membiasakan anak tidur cepat (tidak larut malam)
Memisahkan tempat tidurnya dari orang tua dan saudara yang berbeda jenis kelamin
Mengajari adab tidur
Membiasakan anak menjaga pandangan
Membiasakan anak menutup aurat
Mengajarkan anak tidak menyerupai lawan jenis
Menyayangi, bukan memanjakan
Merawat dan mendoakan ‘ekstra’ saat anak sakit
Meluruskan kesalahan anak dengan bijak
Jika anak melanggar, berikan hukuman mendidik bukan menghukum fisik
Mengajari anak dengan praktek dan keteladanan
Mengajarkan pengobatan alami tingkat dasar
Membangun komunikasi intensif dalam forum keluarga
Mengajarkan dan membiasakan adab masuk rumah
Mengajarkan adab bertamu
Mengajarkan dan membiasakan adab masuk kamar orang tua
Membiasakan anak menghadiri undangan dan bersilaturahim
Mengajarkan anak berbuat baik kepada tetangga
Menjaga anak dari pergaulan buruk
Mengajarkan dan membiasakan adab berbicara
Mengajarkan anak menghormati ulama
Membiasakan anak mengasihi teman
Mengajarkan anak hidup sederhana
Mengajarkan anak berjuang dalam kehidupan, menghadapi ujian dan kesulitan

Tahap IV, Anak usia 15-18 tahun

Memotivasi anak memanfaatkan dan mengoptimalkan waktu pagi
Memastikan anak mengisi waktu luang dengan hal-hal positif
Menguatkan kecintaan kepada Rasulullah dan Al Qur’an
Mengarahkan anak menjadi teladan dalam pergaulan
Mengajarkan kemandirian dan menjauhi kemalasan
Lebih memperhatikan kualitas pendidikan, ilmu dan Al Qur’an
Mengajari anak bahasa asing
Mengenali pola pikir anak
Memberikan nasehat pada momen yang tepat
Mengajaknya rekreasi bersama
Mengajari anak memikul amanah dan tanggungjawab
Memberinya tugas penting
Memupuk militansi dan semangat berjuang
Menumbuhkan semangat berkompetisi
Menanamkan motivasi untuk berhaji
Memahamkan dan memotivasi untuk menikah jika telah memiliki ba’ah

Selamat meneledani. (KeluargaCinta.com).

Ini Risiko Buruk Jika Anak Disuguhi Kata-kata Kasar

View Article
kotabontang.net - Kata-kata kasar, teriakan, nada ancaman dari orang tua ternyata tidak baik untuk mental anak, berisiko besar untuk masa depan si buah hati.

Riset terbaru Annete Mahoney, profesor psikologi di Ohio, seperti dilansir DokterSehat.com, perilaku verbal orang tua tersebut berbahaya jika diabaikan.

Menurutnya, ketidakramahan verbal atau memukul sekaligus bisa membuat anak meniru, cepat depresi dan cenderung berbuat kasar di kemudian hari

Mahoney menjelaskan, kekerasan verbal memiliki sebuah siklus alami. Anak-anak yang mempunyai masalah perilaku maupun penyakit mental akan sulit ditangani.

Remaja yang mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua seperti dipukul, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami masalah perilaku dan penyakit mental.

Peneliti Michelle Leroy, mengatakan, serangan verbal orang tua terhadap anak remajanya sama merusaknya dengan perlakuan kekerasan fisik yang parah, terutama dalam keluarga yang memiliki masalah terkait dengan kesehatan mental.

Hasil riset kedua peneliti tersebut dipublikasikan pada jurnal Child Abuse & Neglect. Penelitian yang melibatkan remaja bermasalah pada usia 11-18 tahun.

Orang tua mereka juga ikut dilibatkan, dan diminta untuk melaporkan perilaku mereka dalam frame yang sama. (DokterSehat.com)

Monday, February 23, 2015

Ciri-ciri si Dia Jodoh Anda

View Article
kotabontang.net - Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Jika Anda sudah berpasangan, apakah Anda yakin si dia jodoh Anda?

Bila Anda kerap dihantui pertanyaan, "Apakah dia jodohku?" sebaiknya Anda menyimak tanda-tanda positif bahwa dia orang yang tepat untuk Anda, berikut ini.

- Dia mencintai Anda apa adanya
Seseorang yang tepat bagi Anda seharusnya tidak menilai, tidak membandingkan Anda dengan orang lain, atau mengkritik Anda. Bahkan, dia melihat kecantikan Anda yang kadang Anda sendiri tidak bisa melihatnya. Itu artinya dia mencintai Anda karena siapa Anda.

- Mengakui Anda
Pria yang tepat adalah dia yang tidak takut untuk mengatakan kepada dunia bahwa dia mencintai Anda dan mengakui Anda sebagai pasangannya.

- Anda merasa nyaman satu sama lain
Tak peduli bagaimana kondisi dan situasi, ketika Anda bersamanya, Anda hanya merasa nyaman. Bahkan, nyaman dalam diam, kecanggungan, atau momen aneh sekali pun.

- Anda percaya kepadanya
Pria yang benar-benar tulus dan mencintai Anda tidak akan membuat Anda cemas setiap kali pesan di Facebook atau media sosial lainnya muncul, atau ketika dia menjawab panggilan telepon. Anda memiliki perasaan yang sangat damai karena pasangan Anda jujur setiap waktu.

- Dia bertemu keluarga dan teman-teman Anda
Pria yang tepat bagi Anda setidaknya akan berusaha untuk berkenalan dengan keluarga dan teman-teman Anda. Hal ini menandakan jika dia tidak hanya mau mengenal Anda saja, tapi orang-orang di sekitar Anda.

- Anda percaya diri dengan hubungan kalian
Inilah yang paling penting dalam sebuah hubungan. Anda merasa yakin dan percaya diri untuk menua bersamanya dan menjalani hidup dengan dia.

--Metrotvnews.com--

Tuesday, February 10, 2015

Perhatian Buat Ibu Ibu : Jangan Katakan 3 Hal Ini kepada Anak Saat Marah

View Article
kotabontang.net - Mendidik dan merawat buah hati bukanlah hal yang mudah, tetapi sebenarnya bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan.

Tidak jarang anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan Anda hingga membuat Anda marah. Ketika marah, ada tiga kalimat yang sebaiknya tidak Anda katakan kepada anak.

1. "Kamu membuat Ibu marah!"
Menurut psikolog Erica Reischer, PhD, kalimat ini atau kalimat serupa sebenarnya bermaksud untuk membuat anak merasa bersalah atas sikapnya. Tujuan orangtua menyampaikannya kepada anak adalah berharap si kecil mengubah sikap buruknya. Namun, jika Anda sedang benar-benar marah, hindarilah mengucapkannya di depan anak.

"Mengungkapkan ekspresi dengan kalimat seperti ini malah memperburuk keadaan dan membuat hubungan dengan anak menjadi negatif. Lebih buruk lagi, ini membuat anak merasa rendah diri dan merasa cemas serta ketakutan," ujar Reischer.

2. "Kamu ini kenapa sih?"
Reischer menjelaskan, kalimat ini membuat anak merasa dipermalukan. Tanpa Anda sadari, Anda mengharapkan anak mengubah sikapnya denagn membuatnya malu. Reischer menyebutkan, orangtua harus menyadari pasti ada maksud di balik hal-hal menjengkelkan yang dilakukan anak.

"Misalnya adalah dia mengharapkan perhatian Anda, menginginkan adanya informasi, atau yang terkait dengan kreativitas anak. Daripada mempermalukan anak seperti itu, lebih baik Anda mengatakan hal-hal yang bisa membuat anak lebih baik pada masa mendatang," sebut pengajar di University of California Berkeley, Amerika Serikat, ini.

3. "Lebih baik kamu..."
Kalimat semacam ini, kata Reischer, membuat anak merasa takut. Sebab, nada kalimat yang Anda utarakan ini menyiratkan agresi dan intimidasi. Ingatlah, anak akan tumbuh dewasa dan mandiri. Jika Anda mengatakan kalimat semacam ini, anak akan terhambat untuk dapat bersikap mandiri.

"Anda malah akan mendidik anak dengan cara yang intimidatif. Pada akhirnya, ini akan mengikis kepercayaan dan rasa hormat sebagai unsur penting dalam hubungan Anda dengan anak," jelas Reischer.

Lalu, kalimat seperti apa yang dapat Anda katakan agar anak dapat bersikap lebih baik tanpa harus merusak karakternya? Reischer memandang, ada baiknya Anda fokus pada eksplisitas perilakunya. Anda dapat mengungkapkan kalimat seperti, "Ibu tidak suka sikap kamu itu," atau "Ibu tidak suka kalau kamu...," atau "Kalau kamu begini, Ibu merasa...."

"Setelah mengatakan itu, pastikan Anda memberitahunya mengapa sikapnya itu tidak baik. Kemudian, lakukanlah semacam diskusi tentang apa yang seharusnya dia lakukan lain kali," imbuh Reischer. (Psychology Today/Kompas.com)